Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2022, Momentum Bagi Generasi Milenial Menumbuhkan Semangat Menjaga Kamtibmas
Keberadaan negara Indonesia di mata negara-negara asing bagaikan *“perempuan cantik nan anggun”* sehingga membuat siapapun melihatnya tertarik dan terpikat kepadanya. Hal inilah kemudian melatar belakangi negara-negara asing banyak berdatangan ingin menguasai Indonesia di masa silam hingga saat ini.
Telah menjadi fakta, bahwa sejarah lahirnya kemerdekaan RI tidak lahir begitu saja, namun diawali dengan tetesan darah, keringat hingga nyawa dari para pahlawan di negeri ini dari Sabang hingga Merauke, semua itu mereka lakukan demi satu tujuan yakni kemerdekaan Indonesia.
Di awal sebelum kemerdekaan para penjajah berdatangan silih berganti ke Nusantara sebelum kemerdekaan RI, mereka hadir bertujuan untuk menguasai dan memanfaatkan sumberdaya alam yang dimiliki ibu pertiwi yang sangat kaya raya, mulai dari rempah-rempah, pertanian, minyak bumi, batu bara, tambang emas, nikel dan lain sebagainya.
Mula-mula tentara Jepang mendarat pertama kali di Indonesia pada 11 Januari 1942, tepatnya di Tarakan, yang dulunya termasuk wilayah Kalimantan Timur. Salah satu alasan Jepang menjajah Indonesia adalah untuk mendapat cadangan logistik dan bahan industri perang, seperti minyak bumi dan aluminium.
Disamping Jepang jauh sebelumnya negara-negara Eropa pernah menjajah Indonesia seperti Portugis. Tujuan Portugis menjajah Indonesia adalah untuk mencari rempah-rempah yang saat itu memang sangat dibutuhkan di pasar Eropa. Portugis datang ke Indonesia dengan membawa misi 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Maksud dari gold adalah untuk mencari keuntungan dan hasil besar dalam perdagangan rempah-rempah, selain itu Spanyol, dan terakhir adalah Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, namun dengan izin Allah dan kerja keras yang dilandasi dengan persatuan semua komponen bangsa akhirnya Indonesia bisa berdiri menjadi sebuah negara meredeka dan berdaulat.
Menyadari hal tersebut kemudian terjadilah perlawan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia bersatu padu melawan penjajah hingga berabad-abad lamanya, termasuk pasca diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, peperangan pun tetap terjadi yang puncaknya pada 10 November 1945.
Peristiwa 10 November 1945 dikenal saat ini sebagai hari pahlawan, karena bangsa Indonesia khususnya masyarakat Surabaya dengan dipimpin oleh Bung Tomo, mampu membakar semangat masyarakat Surabaya khususnya untuk bersatu melawan tentara Jepang dan Inggris.
Diantara hal yang cukup menarik walau pertempuran ini terjadi di daerah Surabaya akan tetapi tidak membuat masyarakat dari daerah lain untuk terhalang bergabung bersama masyarakat Surabaya dalam melawan tentara penjajah. Diantara para pejuang dari luar Surabaya yang ikut dalam peristiwa 10 November 1945 yaitu ada pejuang dari Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Bali, para kiai dan ulama, semua bersatu padu terjun ke medan perang, demi mempertahankan kemerdekaan ibu pertiwi.
Dengan demikian, diantara pesan moral yang penting digaris bawahi oleh bangsa Indonesia saat ini terutama kalangan generasi milenial adalah karena semangat patriotisme yang dilandasi dengan semangat persatuan semua anak bangsa kala itu, sehingga kemerdekaan Indonesia bisa terwujud.
Karenanya sudah menjadi kewajiban kita sebagai bangsa saat ini dan seterusnya, agar tetap konsisten dan berkomitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan kita masing-masing, paling tidak dengan cara tidak mudah terpancing dengan isu hoax, menghindari perbuatan yang bernuansa SARA serta bijak dalam menggunakan media sosial.
Di samping hal tersebut di atas, upaya konkrit yang perlu dilakukan seluruh anak bangsa terutama tokoh agama, tokoh, masyarakat, tokoh pemuda adalah secara intensif menjalin komunikasi dengan baik diantara mereka lebih khusus lagi dengan aparat keamanan TNI/Polri, sehingga dengannya situasi kamtibmas dan stabilitas tanah air bisa terus terawat dengan baik.
Khusus di Makassar, Sulawesi Selatan tentu situasi kamtibmas adalah salah satu perhatian dan prioritas serta tanggungjawab kita semua, karenanya berbagai potensi gangguan kamtibmas akan dapat diatasi dengan baik, manakala seluruh lapisan masyarakat bersatu-padu dengan pihak jajaran Polda Sulsel untuk mengantisipasinya.(*)
Oleh: *DR.H.Abdul Wahid, MA*
(Muballigh & Akademisi Makassar)
Add Comment