25.8 c Dubai

Iksan Iskandar, Jejak Sang Surya di Butta Turatea

Iksan Iskandar, Jejak Sang Surya di Butta Turatea

JENEPONTO,- Di HUT hari jadi Kabupaten Jeneponto yang 160 Tahun, pertanda sebuah buku roman biografi, bertajuk"Iksan Iskandar,  Sang Surya di Butta Turatea" ditulis Bachtiar Adnan Kusuma, dkk, diterbitkan Yapensi, cetakan pertama, April 2023 dengan ISBN : 978-623-5434-16-2. Buku ini diluncurkan pada 1 Mei 2023 di Lapangan Pasamaturukang, Jeneponto.
 
Bila pernah membaca buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno (1981) maka sesungguhnya itu adalah gambaran gaya penulisan roman biografi ala Ramadhan KH. Penulisan kisah yang mengharu biru.

Ramadan Karta Hadimadja ( 16 Maret 1927 – 16 Maret 2006 ) adalah seorang sastrawan yang juga sangat terkenal sebagai salah seorang cikal penulis roman  biografi di Indonesia. Ia peraih hadiah Sastra Southeast Asia Write Award (1993). Anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia (2001).

Buku roman biografi dengan karakteristik bergaya novel, menjadi salah satu model dalam penceritaan sejarah seorang tokoh kepada khalayak, agar pembaca tak merasa jenuh. Alur kisahan ditulis runtut, relatif tidak rumit, mudah dipahami, karena mengggunakan gaya bahasa sastrawi, estetis layaknya pemaparan filmis. 

Buku roman biografi “Sang Surya di Butta Turatea” adalah serentang jejak seorang tokoh dari Butta Turatea; Drs. Haji Iksan Iskandar., M.Si., Bupati Jeneponto periode 2013 -2018 dan 2018 -2023. Ia telah mengantar pembangunan kampung halamannya, Jeneponto ke gerbang sukses.
Laksana sang surya, Iksan Iskandar menyingkap sistem nilai masyarakat yang teguh dianut. Masyarakat yang memegang teguh nilai luhur Pappasang tu Riolo, pesan leluhur yang berasal kandungan budaya di kampung halaman tempat di mana ia dilahirkan. Milieu, lingkungan budaya tentu sangat berpengaruh penting terhadap kualitas manusia yang lahir di situ, terwujud dalam sikap, prinsip, tata pergaulan.

Buku setebal 168 halaman ini ditulis menggunakan pendekatan jurnalistik. Teks biografi  adalah narasi tentang tokoh dengan pendekatan kaidah jurnalistik sebelum proses menuliskan kisahnya. Terlebih dulu tokoh bersangkutan diwawancarai, demikian pula pada orang-orang dekatnya untuk mendapatkan cerita dan pengalaman nyata secara valid tentang sang tokoh. 
Pendekatan jurnalistik diperlukan untuk penulisan biografi, gunanya agar penceritaan biografi seseorang itu relatif menjadi lebih lengkap, menjadi gambaran "hidup" layaknya orang menonton film. 

Penulis biografi model ini bisa lebih leluasa menggunakan gaya bahasa sendiri. Karena menulis roman biografi berbasis jurnalistik, meski teknik penulisannya mirip soft news, namun bahasanya lebih fleksibel. Bahasanya diramu dengan pendekatan teks sastrawi. Berbeda dengan penulisan hard news, berita peristiwa yang bahasanya cenderung kaku. 

Sebagai seorang yang bersedia ditulis biografinya maka Iksan Iskandar sesungguhnya telah bersedia membuka jendela pribadinya yang mulanya masih tertutup kemudian menjadi catatan terbuka pada bentangan ranah publik setelah menjadi buku. Di dalamnya terbentang ruang, waktu, objek, subjek, data, fakta dan peristiwa layaknya syarat pencatatan sejarah yang benar-benar pernah terjadi. 

Keberhasilan kehadiran buku biografi kekuatannya dipengaruhi oleh kemampuan si penulis menggali, mendalami kejujuran, keterbukaan lembar-lembar pengalaman sang subjek. Kemudian membuka selebar-lebarnya dengan penguatan persepsi untuk diketahui publik. Bachtiar Adnan Kusuma, dkk. Sebagai tim penulis telah berusaha maksimal merangkum itu. Menuliskannya dengan bahasa yang renyah.

Dalam menceritakan riwayat hidup Drs. Haji Iksan Iskandar., M.Si, secara terstruktur dapat terbaca dalam lima bagian;  Bagian Satu mengisahkan Kehadiran Sang Surya di Butta Turatea, bercerita dalam episode Bermula di Musim Bunga, Jejak Kelahiran, Dipisahkan karena Mirip Ayah, Mencari Jati Diri, Kisah Saya dan Radio Transistor, serta Hadiah Sepeda Mini. 

Bagian Kedua mengungkap cerita tentang masa remaja dan pemuda terbagi dalam segmen; Antara Kuliah dan Bisnis, menceritakan tentang episode; Pulang dari Yogyakarta, Aktif di Organisasi Kemahasiswaan, Suka Duka Masa KKN, Kisah Lucu Dengan Bupati Palangkei Daeng Lagu, Wisuda di Administrasi Negara, Meniti Karier  Birokrasi, Pengalaman Hidupku di Birokrasi. 

Bagian Ketiga adalah paparan kenangan berdasarkan cerita Hj. Hamsiah Iksan Karaeng Intang, Istri Drs. H. Iksan Iskandar M.Si. Karaeng Ninra. Bupati Jeneponto dua periode. Terbagi dalam; Jodoh tak Terbang Ke mana-mana, Sosialisasi lewat Majelis Taklim, Komitmen Peningkatan Budaya Literasi, dan Jangan Komplain.

Bagian Keempat segmen bertitel - Surya Menapak di Butta Turatea berisikan sejumlah catatan peristiwa seperti; Tragedi di Kantor DPRD Kabupaten Jeneponto, Mengawal Kontestasi Pilkada, Urung Bertarung Sebagai Calon Bupati, Wattunna mi, Jeneponto Smart, Gammara, Membangun Kebersamaan, Mengantar Jeneponto Lebih Baik dan di tuntaskan dengan Dari Bupati Mau Ke mana.

Bagian Kelima adalah pelengkap berisi testimoni kerabat dekat dalam segmen- Kata Mereka Tentang Saya. Bagian ini mencantumkan testimoni berjudul; Sabar Menghadapi Masalah, Dukung Hafidz 1.000 Santri, Panutan Anak Muda, Bupati yang Rajin Turun ke Bawah, Sosok Sederhana dan Memasyarakat, Pemimpin yang Paham Kondisi, dan di lengkapi dengan, Sangat Teliti dan Care pada Bawahan.

Dengan membaca tulisan roman biografi ini di maksudkan agar pembaca dapat memperkaya wawasan dan sudut pandang terhadap kiprah Drs. Haji Iksan Iskandar., M.Si. Keberadaannya tentu bisa menjadi teladan, inspirasi bagi siapa pun pembacanya. Pembaca bisa memetik hikmat kehidupan yang baik, lebih mulia yang lahir dari keluhuran nilai budaya Pappasang Tu Riolo. Pada gambaran sosok Haji Iksan Iskandar bisa ditemukan pelajaran tentang tata krama, kesederhanaan, kesalehan, dan penghargaan terhadap pluralitas, nilai-nilai kebersamaan, kesetiaan ala manusia Makassar, Butta Turatea.

Semoga roman biografi dapat merawat ingatan dan kenangan, memberikan edukasi bagi masyarakat terkait pemahaman pada berbagai sisi seorang tokoh yang telah bersungguh-sungguh bekerja keras dan cerdas mengantarkan kabupaten Jeneponto agar lebih bersinar. Sejajar dengan daerah lainnya di Sulawesi Selatan.

Meski demikian, catatan perjalanan hidup, karier dan prestasi seorang tokoh Drs. Haji Iksan Iskandar., M.Si. tentu penting ditulis, sebagai bagian dari pertanggungjawaban moral kiprah sosialnya. Bagaimana ia memotivasi, memandu warga untuk bersama-sama mendorong pencapaian kemajuan pembangunan di Jeneponto agar tak kalah bersaing dibanding pencapaian daerah lain di Sulawesi Selatan. Jeneponto tentu masih membutuhkan keberlanjutan hadirnya tokoh teladan yang mampu membangun kebersamaan dalam mewujudkan kesejahteraan warganya. 

Buku ini layak dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat. Pembaca hanya perlu memanfaatkan waktu beberapa saat untuk membaca dan memetik hikmat yang ada di dalamnya. 

Tamamaung 1444 Hijriah 2023 Masehi
Yudhistira Sukatanya

Baca Sebelumnya

Figur Humble dan Bersahabat Alasan Ketua DPRD Je'neponto Komitmen Menangkan Harmansyah Lolos DPD RI

Baca Selanjutnya

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXIII, Gubernur Andi Sudirman : Lao Sappa Deceng, Lisu Mappideceng

Add Comment